Minggu, 04 November 2012


CERITA LAMA
ULANG TAHUN DI RUMAH SAKIT

Oleh
Hafiizh Prasetia

Setelah mendengar dan melihat sendiri hasil lab yang menyatakan dewi terserang penyakit lupus, kami tidak dapat berbuat banyak. Sampai tanggal 9 Juli 2009 ini pun, dewi tidak banyak mengalami perubahan berarti.  Pada hari ini, dewi dipindahkan dari ruang kelas 2 ke kelas 3. Hal ini dikarenakan pada hari ini kami selesai membereskan segala persyaratan ASKESDA. Dengan begini berarti biaya ruangan maupun biaya obat ditanggung semua oleh pemerintah daerah. Peraturan dari ASKESDA ini ialah semua obat-obatan adalah standar, sehingga dapat dibayangkan bahwa obat-obatan itu sangat jauh dari harapan kami.


Persoalan baru yang dirasakan sekarang adalah yang biasanya merawat dewi adalah ibunya, dan ibunya mulai lelah dengan keadaan ini. Beliau ingin pulang dan beristirahat sejenak dari rutinitas. Mendengar keadaan ini, dewi meminta kepada kami untuk mencarikan perawat yang bisa menjaganya. Jangan terlalu muda, ataupun terlalu tua.

Kami pun merespon dengan cepat keadaan ini. Kami berdiskusi dengan perawat yang ada di rumah sakit itu. Kata mereka, kalau ingin perawatan intensif, biaya perawatannya sebesar 70 ribu untuk satu kali kehadiran, dan kerjanyanya hanya 7-8 jam. Sehingga dalam satu hari diperlukan 3 orang perawat untuk bergantian. Mendengar seperti ini, kami pun mengurungkan niat untuk merekrut perawat buat jaga dewi. Kami mencari alternative lain yang lebih murah, namun kerjanya bagus.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.. Inilah malam yang tidak aku harapkan, untuk menginap di rumah sakit.. Karena tinggal beberapa jam lagi usia ku genap 24 tahun.  Padahal sudah jauh-jauh hari sebelumnya aku sudah berencana membuat suatu acara bersama beberapa teman dekatku,, setelah beberapa pertimbangan, aku memutuskan untuk menundanya,, mungkin sampai tahun depan, untuk menemukan moment yang paling pas.

Pukul 00.00, tepat hape ku berbunyi, dan kudapati satu sms yang masuk,, “Happy b’day, moga panjang umur, dan segala keinginan yang  kamu harapkan dapat terwujud”,,  Sms ini terasa sangat menyejukkan, ibarat lahan kering yang tersiramkan air hujan,, Apalagi sms ini datangnya dari sahabat dekat ku, dimana selama ini berbagi cerita dengan dirinya..

Sampai larut pukul 01.00 dinihari, aku juga tidak bisa tidur. Di ruang kelas 3 ini, ditempatkan empat orang pasien, namun satu tempat masih kosong, sehingga kami dapat tidur didalam ruangan tersebut.
Malam ini terasa hening, dan kulihat dewi begitu tenang, tidak cerewet seperti sebelum-sebelumnya. Tapi aku sangat khawatir tentang keadaan ini. Aku menyangka kesehatan dewi turun lagi.

Dalam benakku, dengan ditaruhnya dewi diruang kelas 3 ini, merupakan suatu dilema, di satu sisi kami tidak mempunyai duit yang banyak, dan disisi lain kami mengharapkan pengobatan yang optimal buat penyembuhan dewi.

Mungkinkah ini sudah takdir dewi, ditakdirkan untuk meninggal dengan perlahan-lahan, dengan hanya pengobatan sekadarnya. Tapi apa daya teman-teman hanya mampu segini upaya untuk menolongnya. Para donaturnya pun tidak cukup berani memberikan uang tunai dalam ukuran wow,, (100 juta kali,,), sungguh tragis,,

Di malam ultah ini aku juga sangat miris,,,(kesedihan yang sangat mendalam),,melihat teman ku sedang terbaring sakit,,, dan aku hanya mampu menyumbangkan tenaga buat membantu nya,, seandainya aku kaya, dan sangat kaya raya, dewi mungkin sudah ku ajak berobat, berobat ke Surabaya, kalau perlu akan ku bawa ke Singapura, dimana disana terkenal dengan pengobatan medisnya,, Namun dibalik semua mimpi ini terselip suatu semangat,, semangat untuk selalu memelihara persaudaraan, semangat untuk berbagi dengan sesama, semangat untuk menjadi orang gedean,, dan sejuta semangat lain, yang membuat kita untuk tidak menyerah,, lanjutkan!!!

Tidak ada komentar: